Kebijakan dan pengelolaan energi nasional yang carut marut didakwa menjadi penyebab hancurnya lingkungan hidup dan ekploitasi membabi buta sumberdaya alam energi. Tak terkecuali di Kal sel, lubang-lubang besar bahkan kawah raksasa yang mengaga dan siap menelan anak negeri lalu tenggelam hilang tak berbekas. Truk-truk raksasa merajai jalan negera, melindas setiap yang bernyawa menjadi pemandangan mengerikan yang hanya terjadi di banua kita saja. Coba tanya penduduk di nusantara, adakah truk pengangkut hasil tambang yang bisa bebas melenggang dijalan raya ditempat mereka? Bahkan deru mesin industri yang seolah tak pernah henti disepanjang jalan negara, kecuali hanya terjadi di wadah kita Banua Banjar ngini haja, nang ai…

Kebijakan energi yang terlambat ujar kawan saya..! bahkan tak punya visi.. (more…)

Krisis BBM dinegeri yang kaya minyak nampaknya menjadi ironi yang menyakitkan bagi rakyat Indonesia. Perjalanan panjang saya dari kaki pegunungan Muller di perbatasan Kalteng sampai ke pesisir dataran rendah Banjarmasin nampaknya menjadi gambaran krisis BBM tersebut. Bayangkan antrian panjang mobil dan kenderaan masyarakat seakan tak putus-putusnya. Sudah antri berjam-jam di SPBU tapi belum tentu pas giliran anda bensin itu masih tersisa, walau hanya 1 liter. Bahkan berpuluh-puluh SPBU yang saya lewati hanya ada 2 SPBU yang antrian panjang dan SPBUnya sedang buka, selebihnya adalah antrian panjang tetapi pagar SPBUnya masih terkunci rapat…! bahkan beberapa mobil yang diparkir didepan SPBU itu menunjukkan ciri-ciri bahwa dia parkir disitu bukan hanya sehari atau dua hari, tetapi sudah berhari-hari tetapi BBM yang dinanti itu tak kunjung tiba.

(more…)

Hari itu 17 Juni 2008, waktu menunjukkan jam 10.45 WIB, dengan semangat 45 saya berangkat dari mess Rawamangun ke bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Niat untuk ke PRJ harus saya urungkan dengan alasan khawatir ketinggalan pesawat lion air JT236 tujuan Banjarmasin. Kulihat tiket itu berulang-ulang, boarding jam 15.30 semakin khawatir lah saya mengingat perjalanan di Jakarta susah diprediksi, ancaman kemacetan terus menghantui karena bisa datang tiba-tiba seperti air bah kiriman dari puncak Bogor.

(more…)

Sekedar Outline

Oleh Ibnu Sina (Ketua Komisi 1 DPRD Prov. Kal Sel)

Disampaikan pada Diskusi Publik ”Menggugat Kebijakan Pemerintah Daerah atas Ijin Penggunaan Jalan Umum untuk Angkutan Batu Bara”

Dilaksanakan Oleh Dept. Isu dan Aksi BEM IAIN Antasari Banjarmasin, 21 April 2007

Saatnya mengambil sikap; Walaupun sangat terlambat, tetapi tidak ada kata terlambat untuk ”bertaubat”. Saatnya menghentikan penggunaan jalan umum untuk angkutan batubara demi masa depan Kal Sel yang TERSENYUM. Bahkan keberanian untuk melakukan moratorium (penghentian aktivitas pertambangan) di Kal Sel dan mengkaji ulang seluruh aktivitas pertambangan yang ada. KALAU TIDAK SEKARANG KAPAN LAGI? KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI? (more…)

Saya beristighfar ketika semua fraksi kecuali PBB menyetujui Raperda Minuman Beralkohol ini akhirnya diketokpalu menjadi PERDA PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN PEREDARAN MINUMAN BERALKOHOL, 2 hari pasca peringatan kebangkitan nasional, tepatnya 22 Mei 2008 di forum Rapat paripurna DPRD Prov. Kal Sel. Perlu saya jelaskan bahwa dengan adanya perda ini bukan berarti kita MELEGALKAN miras di Kalsel, tapi semata-mata hanya untuk menyelamatkan Banua ini dari “air kencing setan” agar tidak dijual bebas dipinggir jalan. Perjalanan panjang untuk sebuah PERDA yaitu 1 tahun kurang 7 hari..! 29 Mei 2007 setahun yang lalu raperda ini kami ajukan. (more…)

Sudah lama saya ingin berbagi cerita tentang Perda Larangan Minuman Beralkohol, atau lebih mudah disebut Perda MIRAS. Kalau soal dampak dan fakta JAHAT nya miras sudah tidak terbantahkan lagi saya kira, dan setiap hari media cetak dan elektronik menyajikan berita tentang itu. Bahkan secara peraturan per-UU-an pun dengan tegas menjelaskan dampak “air kencing setan” itu dengan menyebutnya sebagai penyakit masyarakat

Lalu persoalan dilematisnya dimana? (more…)

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi pemanasan bumi (global warming)..? itu pertanyaan sederhana tapi terlalu mengawang. Tapi sesungguhnya semua manusia harus bertanggung jawab terhadap keberlangsungan alam agar lestari (sustainable resourses).   Kalau Pemprop DKI Jakarta mengeluarkan PERDA yang mengurangi pencemaran/polusi dengan Larangan Merokok di tempat umum rasanya syah saja. Saya sering kasihan dengan “ahli hisap” atau “ahli falak” ini ketika di Jakarta.  Merasa dipojokkan, dipinggirkan karena kalau ingin merokok harus ditempat khusus dipojok-pojok ruang tunggu atau dipinggir koridor bandara. 

(more…)

Urang Banjar di Tembilahan, Bumi Sri Gemilang

Konon sudah lebih dari 5 generasi urang banjar yang madam, migrasi, ’terdampar’ di Tembilahan. Sebenarnya bukan hanya di Tembilahan sebaran warga banjar di nusantara. Paling tidak di Sumatera ada di Tembilahan (Kab. Indragiri Hilir), Kuala Tungkal (Kab. Tanjung Jabung – Jambi), juga di Kab. Deli Serdang – Kab. Serdang Bedagai – Kab. Langkat di Sumut., bahkan di Singapura dan Malaysia (khususnya Batu Pahat). Inilah jejak urang Banjar di Tanah Melayu.

Pada tulisan yang lain ulun ceritakan jua bubuhan kampung Banjar di Manado, Makassar, Mataram, Pontianak, Bukittinggi dan Singapura.

(more…)

Urang Banjar di Manado, Bumi Nyiur Melambai – Jejak Banjar di Nusantara

Betapa terkejutnya ulun saat berkunjung ke Manado yang terkenal dengan Bunaken-nya, ternyata ada Kampung Banjar di Provinsi Sulut yang mayoritas non-muslim itu. Ada kawan ulun yang urang Arab Manado Riduan Asy-syawi yang menginformasikan bahwa ada tokoh Banjar yang menjadi Ketua MUI Sulawesi Utara. Beliau lah KH Fauzi Nurani al Banjari yang alumni Ponpes Pamangkih tahun 1967, beliau hijrah ke Manado tahun 1970 sebagai PNS Depag dan menyunting gadis Manado. Beliau tinggal di Kelurahan Mahawu Kec. Tuminting Kota Manado dan beranak pinak 4 orang yang semuanya sudah berkeluarga. (more…)

Uji adrenalin saat Outbond Training di Cipayung – kawasan puncak Bogor

Kalau ikut pelatihan, training, penataran atau apalah namanya tentu anda pasti sudah sering. Tapi pernah kah mencoba keluar dari status quo yang namanya pelatihan harus di dalam ruangan. Bergembira di alam bebas, puaskan berteriak, dan lantangkan ekspesimu. Bergoyang di jembatan inul dengan seutas tali yang anggap saja bagai melintas jembatan sirothol mustaqim setipis rambut dibelah tujuh, he..he.. tentu lebih menantang. Atau meluncur dari ketinggian 20 meter dengan tingkat pengamanan standar dan bergelantungan di seutas tali slank tentu akan memacu adrenalin anda. Tidak semuanya berani mencoba flying fox ini. (more…)

Next Page »